Lingkaran musik ekstrem Bali kembali memanas dengan kembalinya Whiteeyes, band death metal asal Denpasar yang terbentuk sejak 2011. Bukan sekadar nostalgia, kebangkitan mereka menandai fase baru: lebih solid, lebih brutal, dan lebih sadar arah.
Setelah sempat mengalami hiatus akibat tuntutan pendidikan dan pekerjaan, kini Whiteeyes kembali dengan formasi matang serta visi musikal yang jauh lebih tajam.
Filosofi Dingin, Musik Tanpa Kompromi
Nama Whiteeyes merepresentasikan cara pandang tanpa ilusi—membedah realita secara dingin dan frontal.
Secara musikal, mereka berada dalam spektrum death metal modern dengan pengaruh dari Aborted, Fleshgod Apocalypse, Necrophagist, Decapitated
Hasilnya adalah komposisi agresif, teknis, namun tetap membawa atmosfer gelap yang penuh tekanan.
Whiteeyes sebelumnya telah merilis Apocalipse The War dan Genocide In Texas
Kini mereka melangkah lebih jauh lewat:
New World
Para Militan
Salah satu karya paling vokal mereka, Re-Awaken The Fallen, menjadi bentuk perlawanan terhadap sistem yang korup. Lagu ini bukan sekadar agresi sonik, tetapi manifesto bagi mereka yang muak terhadap ketidakadilan yang dibungkus legitimasi.
Formasi Whiteeyes Saat Ini;
Manguta — Vocal
Dewa Dyaksa — Guitar
Dewa Toti — Guitar
Gilang Kinan — Bass
Gede Abi — Drum
Dengan kembalinya Whiteeyes, satu hal menjadi jelas: semangat underground Bali tidak pernah benar-benar padam. Kini mereka siap memuntahkan energi perlawanan melalui rilisan audio dan visual yang telah tersedia di berbagai platform digital.
